MAKALAH
MATA
KULIAH PENDIDIKAN ANAK DI SD
(PDGK4403)
HAKIKAT PENDIDIKAN, KEMAMPUAN KOGINTIF
SERTA MORAL PADA ANAK SD.

Disusun
oleh :
|
|
1.
ASEP SUPRIATNA R.M
NIM :
819610406
2.
AI KUSMIATI
NIM :
820808618
3.
ETI
KUSMIRAH
NIM :
820818207
4.
MAMAH SURYAMAH
NIM :
820815011
5.
RAHMATULLAH
NIM :
819536808
6.
MOCH. ASEP PURKON
NIM. 820808632
|
|
UNIVERSITAS
TERBUKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIT BELAJAR
JARAK JAUH BOGOR
POKJAR
LEUWILIANG
2013
LEMBAR
PENGESAHAN
|
Judul
|
:
|
Hakikat Pendidikan, Kemampuan Kogintif Serta Moral Pada
Anak SD.
|
|
Penyusun
|
:
|
1.
ASEP SUPRIATNA R.M
NIM : 819610406
2.
AI KUSMIATI
NIM : 820808618
3.
ETI KUSMIRAH
NIM : 820818207
4.
MAMAH SURYAMAH
NIM : 820815011
5.
RAHMATULLAH
NIM : 819536808
6.
MOCH. ASEP PURKON
NIM. 820808632
|
Makalah
tersebut telah disetujui :
|
Tutor Mata Kuliah Pendidikan Anak di SD
MARIDJO, M.Pd
|
|
Bogor, Oktober 2013
Penyusun
KELOMPOK I
|
KATA PENGANTAR
Dengan segala
kerendahan hati penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas kelompok I Makalah Pendidikan Anak SD yang berjudul Hakikat Pendidikan, Kemampuan kogintif serta
moral pada anak SD.
Mungkin dalam
pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan baik itu dari segi penulisan, isi
dan lain sebagainya, maka penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran guna
perbaikan untuk pembuatan makalah hari yang akan datang.
Demikianlah
sebagai pengantar kata, dengan iringan serta harapan semoga tulisan sederhana
ini dapat diterima dan bermanfaat bagi pembaca. Dan penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan
makalah ini.
|
|
|
Bogor, Oktober 2013
Penyusun
|
DAFTAR ISI
Halaman
Lembar pengesahan .............................................................................................. ii
Kata Pengantar ..................................................................................................... iii
Daftar Isi .............................................................................................................. iv
Abstrak ................................................................................................................. v
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar
Belakang .................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah ................................................................................ 1
C. Tujuan
Penelitian ................................................................................. 1
D. Manfaat
Penelitian ............................................................................... 2
BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................................. 3
BAB III PEMBAHASAN .................................................................................. 5
A. Hakikat,
Tujuan dan Fungsi Pendidikan ............................................. 5
B. Tahap-tahap
Perkembangan Anak ....................................................... 6
C. Peran IQ
dan EQ dalam Keberhasilan Belajar Siswa .......................... 6
D. Perkembangan
Moral dan Sosial pada Anak Usia Sekolah Dasar ....... 8
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 11
A. Simpulan .............................................................................................. 11
B. Saran .................................................................................................... 11
Daftar Pustaka
ABSTRAK
Pembuatan
makalah ini dilatar belakangi oleh tugas mata kuliah PDGK4403 serta minimnya
pengetahuan mahasiswa terhadap hakikat pendidikan dan tahap-tahap perkembangan
kognitif anak. Pembuatan makalah ini bertujuan Agar mahasiswa Dapat
menyebutkan hakikat, tujuan serta fungsi pendidikan, dapat menyebutkan tahapan
perkembangan anak, dapat menjelaskan terwujudnya bakat anak, dapat menjelaskan
peran IQ dan EQ dalam keberhasilan belajar, dapat menjelaskan perkembangan
moral dan sosial pada anak usia Sekolah Dasar
Kata kunci; Pendidikan dan
perkembangan kognitif
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan
merupakan upaya mewujudkan UUD 1945, yaitu memajukan kesejahtraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia. Sesuai
dengan UUD 45 pasal 27 pendidikan merupakan hak setiap warga negara Indonesia
dimana pelaksanaannya diselenggarakan melalui Sistem Pendidikan Nasional, yang
menyatakan bahwa masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan yang
seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.
Dalam
pelaksanaannya pendidikan
merupakan usaha untuk mendapatkan pengetahuan baik itu secara formal melalui
sekolah maupun secara informal dari pendidikan di dalam rumah tangga. Anehnya
di jaman yang modern ini tidak sedikit orang yang tidak mengerti hakikat,
tujuan, fungsi, dan prinsip-prinsip yang sebenarnya tentang pendidikan. Oleh
karena itu pada kesempatan ini, penulis mencoba untuk memaparkan tentang
hakikat pendidikan, perkembangan kognitif serta perkembangan moral pada anak
usia Sekolah Dasar.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
1.
Apa hakikat, tujuan, dan fungsi
pendidikan ?
2.
Sebutkan tahap-ahap perkembangan
kognitif anak ?
3.
Bagaimana peran IQ dan EQ dalam
keberhasilan belajar siswa ?
4.
Bagimana perkembangan moral dan sosial
pada anak usia Sekolah Dasar
C. Tujuan Pembuatan makalah
Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1.
Dapat menyebutkan hakikat, tujuan serta
fungsi pendidikan
2.
Dapat menyebutkan tahapan perkembangan
anak
3.
Dapat menjelaskan terwujudnya bakat anak
4.
Dapat menjelaskan peran IQ dan EQ dalam
keberhasilan belajar
5.
Dapat menjelaskan perkembangan moral dan
sosial pada anak usia Sekolah Dasar
D.
Manfaat Pembuatan makalah
Manfaat pembuatan makalah ini adalah :
1.
Dapat mengetahui hakikat pendidikan
2.
Dapat mengetahui peran kecerdasan
intelektual dan kecerdasan emosional anak SD
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Pendidikan
Pengertian
pendidikan menurut Prof. Herman H. Horn Pendidikan adalah proses abadi dari penyesuaian lebih tinggi
bagi makhluk yang telah berkembang secara fisk dan mental yang bebas dan sadar
kepada Tuhan seperti termanifestasikan dalam alam sekitar, intelektual,
emosional dan kemauan dari manusia.
Pengertian
pendidikan menurut M.J. Langeveld Standar dari pendidikan adalah setiap pergaulan yang terjadi
antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan lapangan atau suatu keadaan
dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung.
Pengertian
pendidikan menurut Prof. Dr. John Dewey Konsep dari pendidikan adalah suatu proses pengalaman.
Karena kehidupan adalah pertumbuhan, pendidikan berarti membantu pertumbuhan
batin tanpa dibatasi oleh usia. Proses pertumbuhan ialah proses menyesuaikan
pada tiap-tiap fase serta menambahkan kecakapan di dalam perkembangan
seseorang.
Pengertian
pendidikan menurut Prof. H. Mahmud Yunus Inovasi pendidikan adalah usaha-usaha yang sengaja dipilih
untuk mempengaruhi dan membantu anak dengan tujuan peningkatan keilmuan,
jasmani dan akhlak sehingga secara bertahap dapat mengantarkan si anak kepada
tujuannya yang paling tinggi. Agar si anak hidup bahagia, serta seluruh apa
yang dilakukanya menjadi bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.
Pengertian
pendidikan menurut Wikipedia Fungsi Pendidikan adalah untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya dan masyarakat.
Pengertian
pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) Sistem Pendidikan diartikan sebagai
proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang
lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut
diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan
perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.
Dari
definisi yang di kemukakan beberapa tokoh diatas maka kita dapat mengambil kesimpulan
yang sama namun dalam kata yang berbeda-beda tergantung persepsi dan perspektif
anda melihat pendidikan itu sendiri. Yang jelas bahwa dasar pendidikan
merupakan usaha untuk mencari ilmu pengetahuan yang dilakukan secara sadar.
B.
Perkembangan kognitif
Menurut Jean Piaget dan Vigotsky
the National of young Children mendefinisikan pendidikan anak usia dini adalah
pendidikan yang melayani anak usia lahir hingga 8 tahun untuk kegiatan setengah
hari maupunpenuh baik di rumah ataupun institusi luar. Asosiasi para pendidik
yang berpusat di Amerika tersebut mendefinisikan rentang usia berdasarkan
perkembangan hasilpenelitian dibidang psikologi perkembangan anak yang
mengidentifikasikan bahwa terdapat pola umum yang dapat di prediksi menyangkut
perkembangan yang terjadi selama 8 tahun pertama kehidupan anak
C. Moral
Zainuddin Sifullah nainggolan moral ialah suatu tendensi rohani untuk
melakukan seperangkat standar dan norma yang mengatur perilaku seseorang dan
masyarakat
Sonny Keraf, moral menjadi tolak ukur yang dipakai masyarakat untuk
menentukanbaik buruknya tindakan manusia sebagai manusia, mungkin sebagai orang
dengan jabatan tertentu atau profesi tertentu.
Russel
Swanburg, moral adalah pernyataan pikiran yang berhubungan dengan semangat atau
keantusiasan seseorang dalam bekerja.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Hakikat, Tujuan, dan Fungsi Pendidikan
Pada dasarnya pengertian pendidikan ( UU SISDIKNAS No.20
tahun 2003 ) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya dan masyarakat.
Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional
Indonesia) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: Pendidikan yaitu tuntutan di
dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun
segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia
dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan
setinggi-tingginya.
Tujuan
Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan
manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap
Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan
keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri
serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dengan adanya pendidikan, maka akan timbul dalam diri seseorang
untuk berlomba-lomba dan memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam
segala aspek kehidupan. Pendidikan merupakan salah satu syarat untuk lebih
memajukan pemrintah ini, maka usahakan pendidikan mulai dari tingkat
SD sampai pendidikan di tingkat Universitas.
Pada intinya pendidikan itu bertujuan
untuk membentuk karakter seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Akan tetapi disini pendidikan hanya menekankan pada intelektual saja,
dengan bukti bahwa adanya UN sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan tanpa
melihat proses pembentukan karakter dan budi pekerti anak.
Fungsi
Pendidikan adalah untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
B.
Tahap-tahap Perkembangan Kognitif
Tahap-tahap perkembangan kognitif adalah sebagai berikut :
1.
Sensori motor (lahir-2 tahun)
2.
Praoperasional (2-7 tahun)
3.
Operasional konkret (7-11 tahun)
4.
Formal operasional (> 11 tahun)
C.
Peran IQ dan EQ dalam Keberhasilan Belajar Siswa
Tak dapat dipungkiri bahwa IQ mempunyai peran yang besar dalam menentukan
keberhasilan seseorang, namun IQ bukanlah satu-satunya penentu dalam
keberhasilan seseorang. Oleh karena keberhasilan manusia bukan hanya karena
faktor inteligensia saja, tetapi juga faktor emosi turut bermain dalam
menentukan keberhasilan seseorang.
Penelitian dari National Center (dalam Goleman, 1995) untuk
program balita di Amerika menunjukkan bahwa keberhasilan di sekolah bukan
diramalkan hanya oleh kemampuan dirinya dalam membaca, menulis dan matematika,
melainkan oleh ukuran emosi dan sosial, yaitu yakin pada diri sendiri, tahu
pola perilaku apa yang diharapkan orang dan bagaimana mengendalikan dorongan
hati untuk berbuat nakal, maupun mengganggu, mengikuti petunjuk, dan mengenali
minatnya sendiri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kesiapan anak untuk
masuk sekolah bergantung pada beberapa hal yang paling dasar dari semua
pengetahuan, yaitu bagaimana caranya belajar.
Pada dasarnya emosi adalah dorongan untuk bertindak yang mempengaruhi
reaksi seketika untuk mengatasi masalah. Sehingga emosi yang cerdas akan
mempengaruhi tindakan anak dalam mengatasi masalah, mengendalikan diri,
semangat, tekun serta mampu memotivasi diri sendiri yang terwujud dalam hal-hal
berikut ini.
a.
Motivasi belajar yang berasal dari dalam diri, di mana dengan
pengendalian diri yang baik,
anak yang mampu mengatur sendiri kegiatannya, akan mengenal kecepatan
belajarnya serta lebih mengerti tujuan dan manfaat belajar: Anak tidak perlu
terlalu diatur dan disuruh belajar karena is sendiri sudah menetapkan jadwal
belajarnya dan bisa menciptakan kesenangan dalam belajar.
b.
Pandai. Umumnya anak yang secara emosi cerdas, juga mampu
mengoptimalkan prestasinya karena didorong oleh motivasi belajar yang besar.
Kepandaian seorang anak tidak hanya didukung oleh kecerdasan kognitif yang tinggi
saja. Tidak akan berarti jika anak yang pandai tetapi di sekolah ia tidak
berprestasi baik karena malas belajar, tidak bisa berkonsentrasi sehingga
potensinya yang baik tidak terwujud secara memadai.
c.
Memiliki minat. Anak yang cerdas secara emosional, sejak dini
sudah mengerti keinginannya dan lebih terarah dalam melakukan tugastugasnya.
Minatnya lebih menetap dan upayanya lebih berkaitan dengan kegiatan yang sesuai
dengan minatnya.
d.
Konsentrasi. Dengan kemampuannya untuk mengendalikan diri secara
sehat, anak yang cerdas secara emosional akan lebih bisa memusatkan
konsentrasinya dan tidak mudah teralih oleh situasi sesaat. Kemampuan untuk
memusatkan konsentrasi tidak hanya pada pelajaran sekolah, tetapi juga pada
semua kegiatan yang tengah ditekuninya. Dengan demikian, dalam belajar dan
melakukan kegiatan, anak akan mampu menunjukkan efisiensi dan efektivitas
kerja. Waktu tidak banyak terbuang dan hasil belajar atau kerja yang diperoleh
akan cukup banyak.
e.
Manrpu membaur diri di lingkungan. Anak dengan emosi yang sehat
akan lebih terampil dalam menyesuaikan diri di lingkungannya. Sikapnya
menyenangkan hati orang lain dan lebih dapat diterima lingkungannya. Mereka
cenderung lebih ramah dan tidak menuruti kehendak hatinya dalam menyelesaikan
suatu masalah.
Anak
yang kecerdasan kognitifnya biasa, tetapi memiliki kecerdasan emosi yang tinggi
tidak jarang mampu berprestasi setara dengan anak-anak yang kecerdasan
kognitifnya tinggi. Kemampuan mereka untuk membina kerja sama clan menunjukkan
empati clan toleransi terhadap orang lain menjadikan mereka memiliki banyak
kawan serta bisa memperoleh informasi pelajaran yang cukup luas. Ditambah lagi
dengan konsentrasinya yang tinggi, mereka cukup mampu meraih prestasi optimal.
Anak dengan kecerdasan kognitif yang tinggi clan kecerdasan emosi yang tinggi
biasanya menjadi anak yang disukai oleh lingkungannya clan mampu mewujudkan
diri dengan optimal. Di samping pandai, anak ini pandai bergaul clan biasanya
menjadi pemimpin dalam kelompoknya.
Anak mampu
memecahkan masalah dan menjadi tumpuan harapan untuk memperoleh masukan dari
lingkungannya.
Anak yang cerdas secara emosional akan lebih bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan tugas-tugasnya.
D.
Perkembangan Moral dan Sosial pada Anak Usia Sekolah Dasar
Perilaku moral berarti perilaku yang
menyesuaikan dengan kode moral dari kelompok sosialnya. Dikendalikan oleh
konsep moral berupa aturan-aturan bertingkah laku / berperilaku dalam
masyarakat. Perilaku immoral adalah perilaku yang gagal menyesuaikan pada
harapan social. Perilaku unmoral adalah perilaku yang tidak menghiraukan
harapan dari kelompok sosialnya. Perilaku ini cenderung terlihat pada
anak-anak. Dalam perkembangan moralnya kelak akan belajar mana yang benar dan
mana yang salah, kemudian begitu anak menjadi besar, ia juga harus tahu alas an
kenapa sesuatu dianggap benar sementara yang lain tidak. Yang penting anak
perlu dilibatkan dalam aktifitas kelompok agar menemukan kebenaran dan
membedakan kesalahan.
CARA MEMPELAJARI MORAL.
Menurut Piaget antara usia 5 tahun dan 12 tahun konsep anak
mengenai keadilan sudah tumbuh. Pengertian yang kaku tentang benar dan salah
yang dipelajari dari orang tua menjadi berubah dan anak mulai mempertimbangkan
keadaan khusus di sekitar pelanggaran moral. Sedangkan Kohlberg menamakan
tingkat kedua dari perkembangan moral pada anak usia sekolahsebagai tingkat
moralitas konvensional. Dalam tingkat ini disebut juga sebagai moralitas anak
baik, anak mengikuti peraturan untuk mengambil hati orang lain dan untuk
memperhatikan hubungan yang baik. Menurut Hurlock dalam perkembangan moral ada
4 elemen,
Peran hukum, Kebiasaan/Tata Krama dan Aturan dalam
Perkembangan Moral. Elemen pertama yang penting dalam belajar individu yang
bermoral adalah belajar apa yang diharapkan kelompok. Dalam pada ini suatu
perbuatan dianggap benar jika telah mampu memberikan kesejahteraan kelompoknya.
Pada masa kanak-kanak tidak terlalu dituntut tunduk pada hokum dan kebiasaan
pada anak yang lebih besar. Setelah memasuki usia sekolah mulai diajarkan hukum
yang berlaku di lingkungannya, misalnya sopan santun pada orang yang lebih tua,
membantu orang cacat.
Peran Kata Hati dalam Perkembangan Moral.
Kata hati merupakan control internal terhadap tingkah laku
seseorang. Tidak ada anak yang lahir dengan kata hati tertentu dan setiap anak
tidak hanya belajar mengenai apa yang benar dan apa yang salah, tetapi anak
harus menggunakan kata hatinya sebagai control terhadap tingkah lakunya.
Peran Rasa Bersalah dan Malu dalam Perkembangan Moral.
Setelah anak mengembangkan kata hati, maka kata hati akan
dipergunakan sebagai pedoman bagi tingkah laku mereka. Jika kata hatinya tidak
sesuai dengan yang diharapkan maka kata hatinya akan merasa bersalah, malu,
atau keduanya.
Peran
Interaksi Sosial dalam Perkembangan Moral.
Interaksi social memegang peran penting dalam perkembangan
moral anak karena dapat memberikan dasar-dasar dari tingkah laku yang diterima
masyarakat,memeberikan motivasi melalui apa yang diterima dan tidak diterima
dalam kelompok. Interaksi pertama yang dialami anak adalah kehidupan
keluarganya.
Dalam proses sosialisai, anak
menunjukkan perilaku sesuai aturan – aturan sosial yang ditentukan. Anak pun
mulai membutuhkan teman dekat, yaitu teman sebagai orang yang dapat membantu
jika dibutuhkan. Umumnya teman dekat ini adalah kelompok sebayanya. Kelompok
sebaya dapat sebagai model dalam berperilaku, di mana anak cenderung
meniru perilaku kelompoknya. Jika mempunyai teman berperilaku sesuai
tuntutan masarakat, anak pun akan mengikutinya.
Berbagai karakteristik dari kelompok sebaya menunjukkan bahwa kelompok sebaya
memiliki keunikan tersendiri yang mungkin tidak dijumpai di kelompok yang lain.
Hal ini pula yang membuat anak sebagai anggota kelompok dapat mempelajari pola
– pola perilaku anggota kelompoknya. Meskipun kelompok sebaya merupakan hal
yang diutamakan dalam perkembangan seorang anak, namun peran guru maupun orang
tua tetap diperlukan dalam menanamkan norma yang sesuai dengan tuntutan
lingkungan agar apa yang dituntut oleh kelompok seimbang dengan apa yang
dituntut oleh lingkungan.
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
A.
Simpulan
1.
Fungsi Pendidikan adalah untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya dan masyarakat.
2.
Tahap-tahap perkembangan kognitif
adalah sebagai berikut :
a.
Sensori motor (lahir-2 tahun)
b.
Praoperasional (2-7 tahun)
c.
Operasional konkret (7-11 tahun)
d.
Formal operasional (> 11 tahun)
B.
Saran
Berdasarkan simpulan di atas maka
disarankan agar mahasiswa/guru:
1.
Mewujudkan pembelajaran yang efektik
dengan mengembangkan potensi peserta didik
2.
Menciptakan pembelajaran yang sesuai
dengan perkembangan kognitif anak
DAFTAR PUSTAKA
Taufiq,
A. (2012). Pendidikan Anak di SD.
Tangerang Selatan : Universitas Terbuka.
Haryanto, S.Pd. (2012). Pengertian Pendidikan Menurut Ahli. Di
unduh 08 Oktober 2013 dari
Heraw. (2010). Meningkatkan
Kreatifitas Anak Sekolah Dasar. Di unduh 08 Oktober 2013 dari
http://aniandate.blogspot.com/2010/04/meningkatkan-kreatifitas-anak-sekolah.html
Borgata to launch poker room at Encore in 2022
ReplyDeleteIn 전주 출장마사지 a statement released Monday, Borgata said that the poker room at 광주 출장샵 the casino 속초 출장안마 will be open to 서귀포 출장샵 business 제천 출장마사지 starting Thursday through Friday.