Monday, 17 March 2014


MAKALAH
MATA KULIAH PENDIDIKAN ANAK DI SD
(PDGK4403)
HAKIKAT PENDIDIKAN, KEMAMPUAN KOGINTIF SERTA MORAL PADA ANAK SD.




Disusun oleh :

1.      ASEP SUPRIATNA R.M
NIM : 819610406

2.      AI  KUSMIATI
NIM : 820808618

3.      ETI  KUSMIRAH
NIM : 820818207

4.      MAMAH SURYAMAH
NIM : 820815011


5.      RAHMATULLAH
NIM : 819536808

6.      MOCH. ASEP PURKON
NIM. 820808632


UNIVERSITAS TERBUKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIT BELAJAR JARAK JAUH BOGOR
POKJAR LEUWILIANG
2013



LEMBAR PENGESAHAN

Judul
:
Hakikat Pendidikan, Kemampuan Kogintif Serta Moral Pada Anak SD.

Penyusun
:
1.         ASEP SUPRIATNA R.M
        NIM : 819610406
2.         AI  KUSMIATI
        NIM : 820808618
3.         ETI  KUSMIRAH
        NIM : 820818207
4.         MAMAH SURYAMAH
        NIM : 820815011
5.         RAHMATULLAH
NIM : 819536808
6.         MOCH. ASEP PURKON
NIM. 820808632
                                                     
Makalah tersebut telah disetujui :  

Tutor Mata Kuliah Pendidikan Anak di SD


MARIDJO, M.Pd

Bogor, Oktober  2013
Penyusun



KELOMPOK I








KATA PENGANTAR

Dengan segala kerendahan hati penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas kelompok I Makalah Pendidikan Anak SD yang berjudul Hakikat Pendidikan, Kemampuan kogintif serta moral pada anak SD.
Mungkin dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan baik itu dari segi penulisan, isi dan lain sebagainya, maka penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran guna perbaikan untuk pembuatan makalah hari yang akan datang.
Demikianlah sebagai pengantar kata, dengan iringan serta harapan semoga tulisan sederhana ini dapat diterima dan bermanfaat bagi pembaca.  Dan  penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini.



Bogor, Oktober 2013

Penyusun







DAFTAR ISI
         Halaman
Lembar pengesahan .............................................................................................. ii
Kata Pengantar ..................................................................................................... iii
Daftar Isi .............................................................................................................. iv
Abstrak ................................................................................................................. v
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar Belakang .................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 1
C. Tujuan Penelitian ................................................................................. 1
D. Manfaat Penelitian ............................................................................... 2
BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................................. 3
BAB III PEMBAHASAN .................................................................................. 5
A. Hakikat, Tujuan dan Fungsi Pendidikan ............................................. 5
B. Tahap-tahap Perkembangan Anak ....................................................... 6
C. Peran IQ dan EQ dalam Keberhasilan Belajar Siswa .......................... 6
D. Perkembangan Moral dan Sosial pada Anak Usia Sekolah Dasar ....... 8
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 11
A. Simpulan .............................................................................................. 11
B. Saran .................................................................................................... 11
Daftar Pustaka










ABSTRAK


Pembuatan makalah ini dilatar belakangi oleh tugas mata kuliah PDGK4403 serta minimnya pengetahuan mahasiswa terhadap hakikat pendidikan dan tahap-tahap perkembangan kognitif anak. Pembuatan makalah ini bertujuan Agar mahasiswa  Dapat menyebutkan hakikat, tujuan serta fungsi pendidikan, dapat menyebutkan tahapan perkembangan anak, dapat menjelaskan terwujudnya bakat anak, dapat menjelaskan peran IQ dan EQ dalam keberhasilan belajar, dapat menjelaskan perkembangan moral dan sosial pada anak usia Sekolah Dasar
Kata kunci; Pendidikan dan perkembangan kognitif






BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pendidikan merupakan upaya mewujudkan UUD 1945, yaitu memajukan kesejahtraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia. Sesuai dengan UUD 45 pasal 27 pendidikan merupakan hak setiap warga negara Indonesia dimana pelaksanaannya diselenggarakan melalui Sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.
Dalam pelaksanaannya pendidikan merupakan usaha untuk mendapatkan pengetahuan baik itu secara formal melalui sekolah maupun secara informal dari pendidikan di dalam rumah tangga. Anehnya di jaman yang modern ini tidak sedikit orang yang tidak mengerti hakikat, tujuan, fungsi, dan prinsip-prinsip yang sebenarnya tentang pendidikan. Oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis mencoba untuk memaparkan tentang hakikat pendidikan, perkembangan kognitif serta perkembangan moral pada anak usia Sekolah Dasar.
B.       Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
1.         Apa hakikat, tujuan, dan fungsi pendidikan ?
2.         Sebutkan tahap-ahap perkembangan kognitif anak ?
3.         Bagaimana peran IQ dan EQ dalam keberhasilan belajar siswa ?
4.         Bagimana perkembangan moral dan sosial pada anak usia Sekolah Dasar
C.      Tujuan Pembuatan makalah
Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1.         Dapat menyebutkan hakikat, tujuan serta fungsi pendidikan
2.         Dapat menyebutkan tahapan perkembangan anak
3.         Dapat menjelaskan terwujudnya bakat anak
4.         Dapat menjelaskan peran IQ dan EQ dalam keberhasilan belajar
5.         Dapat menjelaskan perkembangan moral dan sosial pada anak usia Sekolah Dasar
D.      Manfaat Pembuatan makalah
Manfaat pembuatan makalah ini adalah :
1.         Dapat mengetahui hakikat pendidikan
2.         Dapat mengetahui peran kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional anak SD






















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.      Pendidikan
Pengertian pendidikan menurut Prof. Herman H. Horn Pendidikan adalah proses abadi dari penyesuaian lebih tinggi bagi makhluk yang telah berkembang secara fisk dan mental yang bebas dan sadar kepada Tuhan seperti termanifestasikan dalam alam sekitar, intelektual, emosional dan kemauan dari manusia.
Pengertian pendidikan menurut M.J. Langeveld Standar dari pendidikan adalah setiap pergaulan yang terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan lapangan atau suatu keadaan dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung.
Pengertian pendidikan menurut Prof. Dr. John Dewey Konsep dari pendidikan adalah suatu proses pengalaman. Karena kehidupan adalah pertumbuhan, pendidikan berarti membantu pertumbuhan batin tanpa dibatasi oleh usia. Proses pertumbuhan ialah proses menyesuaikan pada tiap-tiap fase serta menambahkan kecakapan di dalam perkembangan seseorang.
Pengertian pendidikan menurut Prof. H. Mahmud Yunus Inovasi pendidikan adalah usaha-usaha yang sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak dengan tujuan peningkatan keilmuan, jasmani dan akhlak sehingga secara bertahap dapat mengantarkan si anak kepada tujuannya yang paling tinggi. Agar si anak hidup bahagia, serta seluruh apa yang dilakukanya menjadi bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.
Pengertian pendidikan menurut Wikipedia Fungsi Pendidikan adalah untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pengertian pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) Sistem Pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.
Dari definisi yang di kemukakan beberapa tokoh diatas maka kita dapat mengambil kesimpulan yang sama namun dalam kata yang berbeda-beda tergantung persepsi dan perspektif anda melihat pendidikan itu sendiri. Yang jelas bahwa dasar pendidikan merupakan usaha untuk mencari ilmu pengetahuan yang dilakukan secara sadar.  
B.       Perkembangan kognitif
Menurut Jean Piaget dan Vigotsky the National of young Children mendefinisikan pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang melayani anak usia lahir hingga 8 tahun untuk kegiatan setengah hari maupunpenuh baik di rumah ataupun institusi luar. Asosiasi para pendidik yang berpusat di Amerika tersebut mendefinisikan rentang usia berdasarkan perkembangan hasilpenelitian dibidang psikologi perkembangan anak yang mengidentifikasikan bahwa terdapat pola umum yang dapat di prediksi menyangkut perkembangan yang terjadi selama 8 tahun pertama kehidupan anak
C.      Moral
Zainuddin Sifullah nainggolan moral ialah suatu tendensi rohani untuk melakukan seperangkat standar dan norma yang mengatur perilaku seseorang dan masyarakat
Sonny Keraf, moral menjadi tolak ukur yang dipakai masyarakat untuk menentukanbaik buruknya tindakan manusia sebagai manusia, mungkin sebagai orang dengan jabatan tertentu atau profesi tertentu.
Russel Swanburg, moral adalah pernyataan pikiran yang berhubungan dengan semangat atau keantusiasan seseorang dalam bekerja.
BAB III
PEMBAHASAN


A.           Hakikat, Tujuan, dan Fungsi Pendidikan
Pada dasarnya pengertian pendidikanUU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 ) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dengan adanya pendidikan, maka akan timbul dalam diri seseorang untuk berlomba-lomba dan memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Pendidikan merupakan salah satu syarat untuk lebih memajukan pemrintah ini, maka usahakan pendidikan mulai dari tingkat SD sampai pendidikan di tingkat Universitas.
Pada intinya pendidikan itu bertujuan untuk membentuk karakter seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi disini pendidikan hanya menekankan pada intelektual saja, dengan bukti bahwa adanya UN sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan tanpa melihat proses pembentukan karakter dan budi pekerti anak.
Fungsi Pendidikan adalah untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
B.            Tahap-tahap Perkembangan Kognitif
Tahap-tahap perkembangan kognitif adalah sebagai berikut :
1.        Sensori motor (lahir-2 tahun)
2.        Praoperasional (2-7 tahun)
3.        Operasional konkret (7-11 tahun)
4.        Formal operasional (> 11 tahun)

C.           Peran IQ dan EQ dalam Keberhasilan Belajar Siswa
Tak dapat dipungkiri bahwa IQ mempunyai peran yang besar dalam menentukan keberhasilan seseorang, namun IQ bukanlah satu-satunya penentu dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena keberhasilan manusia bukan hanya karena faktor inteligensia saja, tetapi juga faktor emosi turut bermain dalam menentukan keberhasilan seseorang.
Penelitian dari National Center (dalam Goleman, 1995) untuk program balita di Amerika menunjukkan bahwa keberhasilan di sekolah bukan diramalkan hanya oleh kemampuan dirinya dalam membaca, menulis dan matematika, melainkan oleh ukuran emosi dan sosial, yaitu yakin pada diri sendiri, tahu pola perilaku apa yang diharapkan orang dan bagaimana mengendalikan dorongan hati untuk berbuat nakal, maupun mengganggu, mengikuti petunjuk, dan mengenali minatnya sendiri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kesiapan anak untuk masuk sekolah bergantung pada beberapa hal yang paling dasar dari semua pengetahuan, yaitu bagaimana caranya belajar.
Pada dasarnya emosi adalah dorongan untuk bertindak yang mempengaruhi reaksi seketika untuk mengatasi masalah. Sehingga emosi yang cerdas akan mempengaruhi tindakan anak dalam mengatasi masalah, mengendalikan diri, semangat, tekun serta mampu memotivasi diri sendiri yang terwujud dalam hal-hal berikut ini.
a.              Motivasi belajar yang berasal dari dalam diri, di mana dengan pengendalian diri yang baik, anak yang mampu mengatur sendiri kegiatannya, akan mengenal kecepatan belajarnya serta lebih mengerti tujuan dan manfaat belajar: Anak tidak perlu terlalu diatur dan disuruh belajar karena is sendiri sudah menetapkan jadwal belajarnya dan bisa menciptakan kesenangan dalam belajar.
b.             Pandai. Umumnya anak yang secara emosi cerdas, juga mampu mengoptimalkan prestasinya karena didorong oleh motivasi belajar yang besar. Kepandaian seorang anak tidak hanya didukung oleh kecerdasan kognitif yang tinggi saja. Tidak akan berarti jika anak yang pandai tetapi di sekolah ia tidak berprestasi baik karena malas belajar, tidak bisa berkonsentrasi sehingga potensinya yang baik tidak terwujud secara memadai.
c.              Memiliki minat. Anak yang cerdas secara emosional, sejak dini sudah mengerti keinginannya dan lebih terarah dalam melakukan tugas­tugasnya. Minatnya lebih menetap dan upayanya lebih berkaitan dengan kegiatan yang sesuai dengan minatnya.
d.             Konsentrasi. Dengan kemampuannya untuk mengendalikan diri secara sehat, anak yang cerdas secara emosional akan lebih bisa memusatkan konsentrasinya dan tidak mudah teralih oleh situasi sesaat. Kemampuan untuk memusatkan konsentrasi tidak hanya pada pelajaran sekolah, tetapi juga pada semua kegiatan yang tengah ditekuninya. Dengan demikian, dalam belajar dan melakukan kegiatan, anak akan mampu menunjukkan efisiensi dan efektivitas kerja. Waktu tidak banyak terbuang dan hasil belajar atau kerja yang diperoleh akan cukup banyak.
e.              Manrpu membaur diri di lingkungan. Anak dengan emosi yang sehat akan lebih terampil dalam menyesuaikan diri di lingkungannya. Sikapnya menyenangkan hati orang lain dan lebih dapat diterima lingkungannya. Mereka cenderung lebih ramah dan tidak menuruti kehendak hatinya dalam menyelesaikan suatu masalah.
Anak yang kecerdasan kognitifnya biasa, tetapi memiliki kecerdasan emosi yang tinggi tidak jarang mampu berprestasi setara dengan anak-anak yang kecerdasan kognitifnya tinggi. Kemampuan mereka untuk membina kerja sama clan menunjukkan empati clan toleransi terhadap orang lain menjadikan mereka memiliki banyak kawan serta bisa memperoleh informasi pelajaran yang cukup luas. Ditambah lagi dengan konsentrasinya yang tinggi, mereka cukup mampu meraih prestasi optimal. Anak dengan kecerdasan kognitif yang tinggi clan kecerdasan emosi yang tinggi biasanya menjadi anak yang disukai oleh lingkungannya clan mampu mewujudkan diri dengan optimal. Di samping pandai, anak ini pandai bergaul clan biasanya menjadi pemimpin dalam kelompoknya.
Anak mampu memecahkan masalah dan menjadi tumpuan harapan untuk memperoleh masukan dari lingkungannya.
Anak yang cerdas secara emosional akan lebih bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas-tugasnya.

D.           Perkembangan Moral dan Sosial pada Anak Usia Sekolah Dasar
Perilaku moral berarti perilaku yang menyesuaikan dengan kode moral dari kelompok sosialnya. Dikendalikan oleh konsep moral berupa aturan-aturan bertingkah laku / berperilaku dalam masyarakat. Perilaku immoral adalah perilaku yang gagal menyesuaikan pada harapan social. Perilaku unmoral adalah perilaku yang tidak menghiraukan harapan dari kelompok sosialnya. Perilaku ini cenderung terlihat pada anak-anak. Dalam perkembangan moralnya kelak akan belajar mana yang benar dan mana yang salah, kemudian begitu anak menjadi besar, ia juga harus tahu alas an kenapa sesuatu dianggap benar sementara yang lain tidak. Yang penting anak perlu dilibatkan dalam aktifitas kelompok agar menemukan kebenaran dan membedakan kesalahan.
CARA MEMPELAJARI MORAL.
Menurut Piaget antara usia 5 tahun dan 12 tahun konsep anak mengenai keadilan sudah tumbuh. Pengertian yang kaku tentang benar dan salah yang dipelajari dari orang tua menjadi berubah dan anak mulai mempertimbangkan keadaan khusus di sekitar pelanggaran moral. Sedangkan Kohlberg menamakan tingkat kedua dari perkembangan moral pada anak usia sekolahsebagai tingkat moralitas konvensional. Dalam tingkat ini disebut juga sebagai moralitas anak baik, anak mengikuti peraturan untuk mengambil hati orang lain dan untuk memperhatikan hubungan yang baik. Menurut Hurlock dalam perkembangan moral ada 4 elemen,
Peran hukum, Kebiasaan/Tata Krama dan Aturan dalam Perkembangan Moral. Elemen pertama yang penting dalam belajar individu yang bermoral adalah belajar apa yang diharapkan kelompok. Dalam pada ini suatu perbuatan dianggap benar jika telah mampu memberikan kesejahteraan kelompoknya. Pada masa kanak-kanak tidak terlalu dituntut tunduk pada hokum dan kebiasaan pada anak yang lebih besar. Setelah memasuki usia sekolah mulai diajarkan hukum yang berlaku di lingkungannya, misalnya sopan santun pada orang yang lebih tua, membantu orang cacat.
Peran Kata Hati dalam Perkembangan Moral.
Kata hati merupakan control internal terhadap tingkah laku seseorang. Tidak ada anak yang lahir dengan kata hati tertentu dan setiap anak tidak hanya belajar mengenai apa yang benar dan apa yang salah, tetapi anak harus menggunakan kata hatinya sebagai control terhadap tingkah lakunya.
Peran Rasa Bersalah dan Malu dalam Perkembangan Moral.
Setelah anak mengembangkan kata hati, maka kata hati akan dipergunakan sebagai pedoman bagi tingkah laku mereka. Jika kata hatinya tidak sesuai dengan yang diharapkan maka kata hatinya akan merasa bersalah, malu, atau keduanya.
Peran Interaksi Sosial dalam Perkembangan Moral.
Interaksi social memegang peran penting dalam perkembangan moral anak karena dapat memberikan dasar-dasar dari tingkah laku yang diterima masyarakat,memeberikan motivasi melalui apa yang diterima dan tidak diterima dalam kelompok. Interaksi pertama yang dialami anak adalah kehidupan keluarganya.
Dalam proses sosialisai, anak menunjukkan perilaku sesuai aturan – aturan sosial yang ditentukan. Anak pun mulai membutuhkan teman dekat, yaitu teman sebagai orang yang dapat membantu jika dibutuhkan. Umumnya teman dekat ini adalah kelompok sebayanya. Kelompok sebaya dapat sebagai model dalam berperilaku, di mana anak cenderung  meniru perilaku kelompoknya. Jika mempunyai teman berperilaku sesuai tuntutan  masarakat,  anak  pun  akan  mengikutinya.  Berbagai karakteristik dari kelompok sebaya menunjukkan bahwa kelompok sebaya memiliki keunikan tersendiri yang mungkin tidak dijumpai di kelompok yang lain. Hal ini pula yang membuat anak sebagai anggota kelompok dapat mempelajari pola – pola perilaku anggota kelompoknya. Meskipun kelompok sebaya merupakan hal yang diutamakan dalam perkembangan seorang anak, namun peran guru maupun orang tua tetap diperlukan dalam menanamkan norma yang sesuai dengan tuntutan lingkungan agar apa yang dituntut oleh kelompok seimbang dengan apa yang dituntut oleh lingkungan.




BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN


A.      Simpulan
1.      Fungsi Pendidikan adalah untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
2.      Tahap-tahap perkembangan kognitif adalah sebagai berikut :
a.         Sensori motor (lahir-2 tahun)
b.        Praoperasional (2-7 tahun)
c.         Operasional konkret (7-11 tahun)
d.        Formal operasional (> 11 tahun)
B.       Saran
Berdasarkan simpulan di atas maka disarankan agar mahasiswa/guru:
1.         Mewujudkan pembelajaran yang efektik dengan mengembangkan potensi peserta didik
2.         Menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan kognitif anak







DAFTAR PUSTAKA


Taufiq, A. (2012). Pendidikan Anak di SD. Tangerang Selatan : Universitas Terbuka.
Haryanto, S.Pd. (2012). Pengertian Pendidikan Menurut Ahli. Di unduh 08 Oktober 2013 dari
Heraw. (2010). Meningkatkan Kreatifitas Anak Sekolah Dasar. Di unduh 08 Oktober 2013 dari
http://aniandate.blogspot.com/2010/04/meningkatkan-kreatifitas-anak-sekolah.html